Menjaga Kesucian Ruh

Oleh: Ali Wafa, Lc 2019-12-26

Allah subhanahu wata'ala menciptakan manusia terdiri dari tiga unsur: badan, akal dan ruh. Dan yang paling mulia diantara tiga unsur ini adalah Ruh. Karena ia merupakan sesuatu yang hakekatnya tidak diketahui kecuali oleh Allah semata. Sebagaimana firmannya "mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah bahwa Ruh itu termasuk urusan Tuhanku. Dan kalian tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit" (Al-Isro, 85).

Tiga unsur tersebut tidak akan berfungsi dengan baik, dan tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa bagi pemiliknya dalam kehidupan dunia dan akhirat, kecuali jika dilengkapi dengan tiga hal yang diperintahkan oleh Allah. Pertama: Allah menjadikan Islam untuk kemaslahatan jasad. Kedua: Allah menjadikan Iman untuk kemaslahatan Akal. Ketiga: Allah telah menjadikan Ikhsan untuk kemaslahatan Ruh.

Jika ketiga Unsur dan ketiga pelengkapnya dipadukan maka akan melahirkan pribadi yang kuat, lurus, cerdas dan seimbang dalam hidupnya. Oleh karena itu, bagi setiap muslim harus memperhatikan ketiga unsur tersebut dengan baik dan tidak boleh meremehkan salah satunya. Jika condong kepada salah satu unsur saja maka dia akan menjadi orang yang labil dan tidak memiliki keseimbangan dalam hidupnya.

Diantara ketiga unsur tersebut yang paling penting adalah unsur Ruh dan Ikhsan, karena unsur inilah yang berhubungan dengan TAZKIYATUN NAFS.

Dalam surat As-syams Allah subhanahu wata`ala berfirman :

...... ونفس وما سواها، فألهمها فجورها وتقوىها، قد اقلح من زكها،  وقد خاب من دسها.....
"… demi jiwa dan penyempurnaanya, maka Allah  mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikannya dan ketaqwaannya, Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya…" ( As-syams, 7-10). 

Tazkiyatun Nafs memiliki dua rukun pokok:  التخلية yaitu mengosongkan hati dari sifat-sifat yang kotor. Dan التحلية yaitu menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji. Dari dua rukun itu Tazkiyah dapat diartikan membersihkan jiwa (Ruh) dari segala bentuk kotoran, penyakit hati dan sifat-sifat tercela, lalu menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. 

Menurut Imam al-Ghazali, Tazkiyatun Nafs itu hukumnya Fardhu 'ain, yakni wajib dilakukan oleh semua orang tanpa terkecuali. Menurut beliau kedudukan Tazkiyatun Nafs sama dengan sholat. Maka orang yang tidak melakukan tazkiyatun nafs dianggap berdosa. Sedangkan mayoritas ulama' berpandangan bahwa tazkiyatun nafs itu hanya wajib dilakukan oleh orang yang sudah mengidentifikasi adanya penyakit dalam jiwanya atau mengetahui adanya gejala-gejala yang bisa mengotori hati.

URGENSI TAZKIYATUN NAFS BAGI MANUSIA

Setidaknya ada empat alasan mengapa manusia harus melakukan tazkiyatun nafs, yaitu :

  1. Karena Allah Subhanahu wata`ala menyukai orang-orang yang membersihkan dirinya dari noda-noda dosa. "….Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang  yang mensucikan diri.." (QS. Al-Baqoroh, 222)
  2. Karena musuh paling besar manusia adalah Nafsu. Nafsu itulah yang senantiasa memasukkan penyakit dan sifat tercela kedalam hati manusia. Oleh karena itulah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam senantiasa berdoa ketika membaca surat As-syams:
    اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها 
    "Ya Allah, Berikanlah jiwaku ketakwaannya dan sucikanlah ia (dari kefasikan), Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkaulah pemiliknya dan penolongnya!" ( HR. Abi Hatim)
  3. Karena Tazkiyatun Nafs adalah salah satu jalan menuju syurga. Allah berfirman: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS. Annazi'at, 40-41)
  4. Karena manusia menyukai keindahan dan kesempurnaan. Maka salah satu cara untuk sampai pada kematangan dan kesempurnaan diri adalah dengan tazkiyatun nafs. Dengan itu, manusia tidak membiarkan dirinya digerogoti penyakit-penyakit hati yang bisa menyebabkan kecelakaan bagi dirinya.

Untuk sampai pada kebersihan jiwa dan hati kita bisa melakukan hal-hal berikut :

  • Selalu berusaha melepaskan sifat-sifat jelek dari dalam diri seperti riya`, iri, dengki, bangga diri dengan amal, kikir, tama` dan yang sejenisnya.
  • Menghiasi hati dengan akhlaq-akhlaq terpuji seperti ikhlas, syukur, takut kepada Allah, rindu rahmat Allah, penyayang. Dll.
  • Senantiasa menjaga sholat lima waktu. Melaksanakannya di awal waktu dengan berjama`ah. Dalam hadits qudsi Allah berfirman: “Dan tidaklah hambaku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang aku wajibkan atasnya”  (HR. Bukhori)
  • Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah.
  • Membaca Al Qur’an dengan Tadabbur (penuh penghayatan). "Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat." Rasulullah ditanya, apa pengkilapnya (pembersihnya)?! Rasulullah menjawab: "Pembersihnya adalah ingat mati dan membaca Al-Quran". (HR. Baihaqi)
  • Selalu bertaubat  atas setiap kesalahan yang kita lakukan, serta memperbanyak Istighfar dan dzikir.
  • Sering duduk bersama-sama dengan orang-orang sholeh dan mendengarkan nasehat darinya.
  • Berburuk sangkalah terhadap nafsu, bahwa ia akan selalu menjerumuskan pada kejelekan, sehingga kita selalu waspada terhadapnya.
  • Sering melakukan Muhasabah atau intropeksi diri. Menghiasi diri dengan sabar dan yakin.
  • Senantiasa berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari kekotoran hati.

       Wallahu a'lam bisshowab


Share this post
Baca Juga: | Membangun Keseriusan | Syukur adalah Ruh Keimanan | Teknologi dan Kenyamanan Hidup