Fenomena Perayaan Tahun Baru

Oleh: Alfian Muarraf 2019-12-20

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka." (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari 'Abdullah bin Umar, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’ no. 6025)

Begitu meriahnya pesta tahun baru 1 januari yang dirayakan hampir seluruh penjuru dunia secara serentak. Tak terkecuali diatas pangkuan ibu pertiwi, pesta tahun baru begitu luar biasa meriahnya, tempat tempat hiburan secara legal dapat dinikmati hingga dini hari.

Sungguh ironi yang luar biasa, disaat ibu pertiwi masih belum sepenuhnya siuman dari hantaman sang monster krisis, banyak uang yang di hambur-hamburkan untuk kesenangan semata. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?!

Akan jauh lebih berfaedah jika uang itu di sumbangkan ke sekolah-sekolah yang rawan akan ambruk ataupun untuk kaum dlu’afa, dari pada kita sawerkan untuk si 1 januari.

Sebuah fenomena yang rasanya sangat menarik untuk dikaji. Mengapa? Karena tidak sedikit seorang muslim sangat antusias untuk meramaikan perayaan ini. Ada apa dengan-mu 1 januari?

Kita tidak perlu memperdebatkan apakah perayaan tahun baru itu berasal dari budaya Islam atau tidak, karena memang  pasti jawabannya tentu TIDAK. Tapi (mindset) pola berpikir dari seorang muslim sangatlah beragam. Dari keberagaman itu akan muncul proteksi akan keimanannya. Jadi kuat atau lemahnya suatu proteksi adalah cerminan suatu keimanan seseorang.

Kilas balik perayaan 1 januari

Peryaan tahun baru di lakukan untuk pertama kalinya pada tanggal 1 januari tahun 45 sebelum masehi (SM). Tak lama setelah Julius Caesar dilantik menjadi kaisar roma, Caesar telah mengubah tatanan yang sangat fundamental, yakni mengubah kalender Romawi kuno yang di ciptakan sejak abad ke-7 SM dan mendesain suatu kalender baru, yang penanggalannya mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang di lakukan orang orang mesir kuno.

Dan dia mendesain kalender baru demi kepentingan dan ambisi politiknya pada saat itu. orang Romawi kuno untuk merayakan pergantian tahun, mereka saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan.

Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang). (http://isykarima.com/asatidzah/193-melacak-asal-mula-perayaan-tahun-baru-masehi.html)

Moslem’s framework and Western civilization Jika demikian maka perayaan tahun baru secara ideologi dan sejarah jelas tidak ada hubungannya dengan Islam dan bukan dari Islam. Jadi, sikap seorang muslim yang antusias dan memeriahkan tahun baru merupakan hegemoni dari kebudayaan dan tradisi yang ada di barat. Karena sudah bukan lagi berkiblat pada Islam dan berpegang pada nilai nilai dasar perjuangan yakni al-qur’an, as-sunnah, dan warisan tradisi intelektual Islam yang perlu dikembangkan dan terus dipertahankan. (Q.S. Al-isra':36 ,Q.S.Al-Mu’minun :71)

Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah ditanya, "Apakah boleh mengucapkan selamat tahun baru Masehi pada non muslim, atau selamat tahun baru Hijriyah atau selamat Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? " Al Lajnah Ad Daimah menjawab, "Tidak boleh mengucapkan selamat pada perayaan semacam itu karena perayaan tersebut adalah perayaan yang tidak masyru' (tidak disyari'atkan dalam Islam)" (http://remajaislam.com/islam-dasar/nasehat/88-10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru.html)

Peradaban barat adalah peradaban yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa eropa dengan mengawinkan peradaban Yunani kuno dan Romawi dengan menyesuaikan elemen-elemen kebudayaan bangsa eropa lainnya terutama Jerman, Inggris, dan Perancis. Jelas dalam prinsip prinsip filsafat, seni, pendidikan diambil dari kebudayaan yunani, dan dalam prinsip-prinsip hukum dan ketatanegaraan diambil dari Romawi.

Perlu disadari bahwa mindset adalah sangat penting dalam pembangunan peradaban Islam, sebab dalam Islam pemikiran selalu mendahului perilaku individu, ilmu selalu mendahului amal. Rusaknya suatu perbuatan (amal) disebabkan oleh rusaknya suatu pemahaman (ilmu).”

Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa amal adalah junun (gila) dan amal saja tanpa ilmu adalah takabbur (sombong).Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah. Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun tujuannya benar.

Maka dalam Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu, ilmu harus berdimensi iman, dan amal mesti berdasarkan ilmu. Inilah sejatinya konsep integritas peradaban dalam Islam yang berbasis ta'dib. Ta'dib berarti proses pembentukan adab pada generasi. Maka dengan konsep seperti ini, akan menghasilkan generasi yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, maupun pada Penciptanya. Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas, orientasi dan tujuannya. Karena amal tanpa ilmu itu cenderung merusak dari pada memperbaiki.

Agaknya perlu ditekankan bahwa visi worldview (pandangan hidup) seorang muslim adalah sebagai motor bagi perubahan sosial dan asas bagi pemahaman realitas dan aktifitas ilmiah _ the   foundation all of human conduct, including scientific and technological activities.

*) Alfian muarrof (Mahasiswa FKIP & Ma’had Abdurrahman bin auf UMM).


Share this post
Baca Juga: | Membangun Keseriusan | Syukur adalah Ruh Keimanan | Teknologi dan Kenyamanan Hidup